Makalah Peranan Perbankan di Pasar Bebas Asean

Strategi Pemberdayaan UMKM Menghadapi Pasar Bebas Asean

Oleh :

Sudaryanto1, Ragimun2 dan Rahma Rina Wijayanti 3

 

1.1 Latar Belakang

Belum kokohnya fundamental perekonomian Indonesia saat ini, mendorong

pemerintah untuk terus memberdayakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Sektor ini mampu menyerap tenaga kerja cukup besar dan memberi peluang bagi UMKM

untuk berkembang dan bersaing dengan perusahaan yang lebih cenderung

menggunakan modal besar (capital intensive). Eksistensi UMKM memang tidak dapat

diragukan lagi karena terbukti mampu bertahan dan menjadi roda penggerak ekonomi,

terutama pasca krisis ekonomi. Disisi lain, UMKM juga menghadapi banyak sekali

permasalahan, yaitu terbatasnya modal kerja, Sumber Daya Manusia yang rendah, dan

minimnya penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi (Sudaryanto dan Hanim, 2002).

Kendala lain yang dihadapi UMKM adalah keterkaitan dengan prospek usaha yang

kurang jelas serta perencanaan, visi dan misi yang belum mantap. Hal ini terjadi karena

umumnya UMKM bersifat income gathering yaitu menaikkan pendapatan, dengan ciri-ciri

sebagai berikut: merupakan usaha milik keluarga, menggunakan teknologi yang masih

relatif sederhana, kurang memiliki akses permodalan (bankable), dan tidak ada pemisahan

modal usaha dengan kebutuhan pribadi.

Pemberdayaan UMKM di tengah arus globalisasi dan tingginya persaingan

membuat UMKM harus mampu mengadapai tantangan global, seperti meningkatkan

inovasi produk dan jasa, pengembangan sumber daya manusia dan teknologi, serta

perluasan area pemasaran. Hal ini perlu dilakukan untuk menambah nilai jual UMKM

itu sendiri, utamanya agar dapat bersaing dengan produk-produk asing yang kian

membanjiri sentra industri dan manufaktur di Indonesia, mengingat UMKM adalah

sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia (Sudaryanto,

2011).

Pada tahun 2011 UMKM mampu berandil besar terhadap penerimaan negara

dengan menyumbang 61,9 persen pemasukan produk domestik bruto (PDB) melalui

pembayaran pajak, yang diuraikan sebagai berikut : sektor usaha mikro menyumbang

36,28 persen PDB, sektor usaha kecil 10,9 persen, dan sektor usaha menengah 14,7 persen

melalui pembayaran pajak. Sementara itu, sektor usaha besar hanya menyumbang 38,1

persen PDB melalui pembayaran pajak (BPS, 2011).

 

Sebagian besar (hampir 99 persen), UMKM di Indonesia adalah usaha mikro di

sektor informal dan pada umumnya menggunakan bahan baku lokal dengan pasar lokal.

Itulah sebabnya tidak terpengaruh secara langsung oleh krisis global. Laporan World

Economic Forum (WEF) 2010 menempatkan pasar Indonesia pada ranking ke-15. Hal ini

menunjukkan bahwa Indonesia sebagai pasar yang potensial bagi negara lain. Potensi ini

yang belum dimanfaatkan oleh UMKM secara maksimal.

Perkembangan UMKM di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai persoalan

sehingga menyebabkan lemahnya daya saing terhadap produk impor. Persoalan utama

yang dihadapi UMKM, antara lain keterbatasan infrastruktur dan akses pemerintah

terkait dengan perizinan dan birokrasi serta tingginya tingkat pungutan. Dengan segala

persoalan yang ada, potensi UMKM yang besar itu menjadi terhambat. Meskipun UMKM

dikatakan mampu bertahan dari adanya krisis global namun pada kenyataannya

permasalahan-permasalahan yang dihadapi sangat banyak dan lebih berat. Hal itu

dikarenakan selain dipengaruhi secara tidak langsung krisis global tadi, UMKM harus

pula menghadapi persoalan domestik yang tidak kunjung terselesaikan seperti masalah

upah buruh, ketenaga kerjaan dan pungutan liar, korupsi dan lain-lain.

Permasalahan lain yang dihadapi UMKM, yaitu adanya liberalisasi perdagangan,

seperti pemberlakuan ASEAN- China Free Trade Area (ACFTA) yang secara efektif telah

berlaku tahun 2010. Disisi lain, Pemerintah telah menyepakati perjanjian kerja sama

ACFTA ataupun perjanjian lainnya, namun tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu

kesiapan UMKM agar mampu bersaing. Sebagai contoh kesiapan kualitas produk, harga

yang kurang bersaing, kesiapan pasar dan kurang jelasnya peta produk impor sehingga

positioning persaingan lebih jelas. Kondisi ini akan lebih berat dihadapi UMKM Indonesia

pada saat diberlakukannya ASEAN Community yang direncanakan tahun 2015. Apabila

kondisi ini dibiarkan, UMKM yang disebut mampu bertahan hidup dan tahan banting

pada akhirnya akan bangkrut juga. Oleh karena itu, dalam upaya memperkuat UMKM

sebagai fundamental ekonomi nasional, perlu kiranya diciptakan iklim investasi

domestik yang kondusif dalam upaya penguatan pasar dalam negeri agar UMKM dapat

menjadi penyangga (buffer) perekonomian nasional.

Masalah lain yang dihadapi dan sekaligus menjadi kelemahan UMKM adalah

kurangnya akses informasi, khususnya informasi pasar (Ishak, 2005). Hal tersebut

menjadi kendala dalam hal memasarkan produk-produknya, karena dengan terbatasnya

akses informasi pasar yang mengakibatkan rendahnya orientasi pasar dan lemahnya daya

saing di tingkat global. Miskinnya informasi mengenai pasar tersebut, menjadikan

UMKM tidak dapat mengarahkan pengembangan usahanya secara jelas dan fokus,

sehingga perkembangannya mengalami stagnasi.

Kemampuan UMKM dalam menghadapi terpaan arus persaingan global memang

perlu dipikirkan lebih lanjut agar tetap mampu bertahan demi kestabilan perekonomian

Indonesia. Selain itu faktor sumber daya manusia di dalamnya juga memiliki andil

tersendiri. Strategi pengembangan UMKM untuk tetap bertahan dapat dilakukan dengan

peningkatan daya saing dan pengembangan sumber daya manusianya agar memiliki

nilai dan mampu bertahan menghadapi pasar ACFTA, diantaranya melalui penyaluran

perkreditan (KUR), penyediaan akses informasi pemasaran, pelatihan lembaga keuangan

mikro melalui capacity building, dan pengembangan information technology (IT).

Demikian juga upaya-upaya lainnya dapat dilakukan melalui kampanye cinta

produk dalam negeri serta memberikan suntikan pendanaan pada lembaga keuangan

mikro. Keuangan mikro telah menjadi suatu wacana global yang diyakini oleh banyak

pihak menjadi metode untuk mengatasi kemiskinan (ref). Berbagai lembaga multilateral

dan bilateral mengembangkan keuangan mikro dalam berbagai program kerjasama.

Pemerintah di beberapa negara berkembang juga telah mencoba mengembangkan

keuangan mikro pada berbagai program pembangunan. Lembaga swadaya masyarakat

juga tidak ketinggalan untuk turut berperan dalam aplikasi keuangan mikro (Prabowo

dan Wardoyo, 2003).

1.2 Perumusan Masalah

Pasar bebas ASEAN yang akan efektif diberlakukan pada tahun 2015 merupakan

titik rawan perjuangan UMKM dan ekonomi kerakyatan. Berbagai kemudahan

perdagangan antar negara seperti pembebasan bea impor dan kemudahan birokrasi akan

mendorong meningkatnya impor komoditas ke negara-negara ASEAN. Iklim

perdagangan tidak hanya akan didominasi oleh negara-negara ASEAN saja, akan tetapi

juga perlu dipertimbangkan kehadiran China dengan produk-produknya yang memiliki

daya saing tinggi dilihat dari harga dan kandungan teknologi. Oleh karena itu dibutuhkan strategi yang tepat untuk meningkatkan daya saing dan sumber daya manusia khususnya untuk menghadapi pasar bebas ACFTA.

1.3 Tujuan Penelitian

Penulisan ini mempunyai beberapa tujuan antara lain sebagai berikut:

  1. Untuk menganalisis strategi dan kemampuan UMKM dalam meningkatkan daya

saing industri dalam rangka menghadapi perdagangan bebas Asean melalui

penyaluran kredit dan penyediaan akses informasi pemasaran.

  1. Untuk menganalisis strategi dan kemampuan UMKM dalam meningkatkan sumber

daya manusianya mengahadapi pasar bebas Asean melalui peningkatan capacity building dan pengembangan information technology.

1.4 Manfaat

Tulisan ini diharapkan memiliki manfaat, antara lain :

  1. Sebagai sumber informasi dan pengetahuan bagi akademisi untuk keperluan kajian

lebih lanjut terkait perkembangan dan strategi UMKM dalam mengadapi pasar bebas

Asean.

  1. Sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan dan keputusan utamanya bagi

pemerintah maupun lembaga lain yang terkait.

1.5 Metologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan eksploratif deskriptif dengan

menganalisis strategi pemberdayaan UMKM dalam menghadapai pasar bebas Asean.

Karya ilmiah ini juga dikembangkan dengan menggunakan pendekatan kajian literatur

atau studi putaka. Pendekatan teori/konsep dilakukan dengan merujuk dari beberapa

sumber, seperti buku, jurnal ilmiah, dan internet. Semua uraian gagasan yang ada

digabungkan dalam satu susunan kerangka pemikiran.

 

  1. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah)

Dalam perekonomian Indonesia UMKM merupakan kelompok usaha yang

memiliki jumlah paling besar dan terbukti tahan terhadap berbagai macam goncangan

krisis ekonomi. Kriteria usaha yang termasuk dalam Usaha Mikro Kecil dan Menengah

telah diatur dalam payung hukum. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008

tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) ada beberapa kriteria yang

dipergunakan untuk mendefinisikan pengertian dan kriteria Usaha Mikro, Kecil dan

Menengah.

Menurut Rahmana (2008), beberapa lembaga atau instansi bahkan memberikan

definisi tersendiri pada Usaha Kecil Menengah (UKM), diantaranya adalah Kementrian

Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menegkop dan UKM), Badan Pusat

Statistik (BPS), Keputusan Menteri Keuangan No 316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni

  1. Definisi UKM yang disampaikan berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

Menurut Kementrian Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah

(Menegkop dan UKM), bahwa yang dimaksud dengan Usaha Kecil (UK), termasuk Usaha

Mikro (UMI), adalah entitas usaha yang mempunyai memiliki kekayaan bersih paling

banyak Rp 200.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan memiliki

penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000. Sementara itu, Usaha Menengah

(UM) merupakan entitas usaha milik warga negara Indonesia yang memiliki kekayaan

bersih lebih besar dari Rp 200.000.000 s.d. Rp 10.000.000.000, tidak termasuk tanah dan

bangunan.

Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan definisi UKM berdasarkan kuantitas

tenaga kerja. Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5

s.d 19 orang, sedangkan usaha menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga

kerja 20 s.d. 99 orang. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor

316/KMK.016/1994 tanggal 27 Juni 1994, usaha kecil didefinisikan sebagai perorangan

atau badan usaha yang telah melakukan kegiatan/usaha yang mempunyai

penjualan/omset per tahun setinggi-tingginya Rp 600.000.000 atau aset/aktiva setinggitingginya

Rp 600.000.000 (di luar tanah dan bangunan yang ditempati) terdiri dari : (1)

badang usaha (Fa, CV, PT, dan koperasi) dan (2) perorangan (pengrajin/industri rumah tangga, petani, peternak, nelayan, perambah hutan, penambang, pedagang barang dan jasa)

2.2 Kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

  1. Kriteria Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) menurut UU Nomor 20

Tahun 2008 digolongkan berdasarkan jumlah aset dan omset yang dimiliki oleh

sebuah usaha.

Tabel 1. Kriteria UMKM

No Usaha

Kriteria

Asset Omzet

1 Usaha Mikro Maks. 50 Juta Maks. 300 Juta

2 Usaha Kecil > 50 Juta – 500 Juta > 300 Juta – 2,5 Miliar

3 Usaha Menengah > 500 Juta – 10 Miliar > 2,5 Miliar – 50 Miliar

Sumber : Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, 2012

  1. Kriteria Usaha Kecil Dan Menengah Berdasar Perkembangan, selain berdasar

Undang-undang tersebut, dari sudut pandang perkembangannya Rahmana (2008)

mengelompokkan UMKM dalam beberapa kriteria, yaitu:

1) Livelihood Activities, merupakan Usaha Kecil Menengah yang digunakan sebagai

kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai

sektor informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima.

2) Micro Enterprise, merupakan Usaha Kecil Menengah yang memiliki sifat

pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan.

3) Small Dynamic Enterprise, merupakan Usaha Kecil Menengah yang telah memiliki

jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor

4) Fast Moving Enterprise, merupakam Usaha Kecil Menengah yang telah memiliki

jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar

(UB).

 

2.3 Pemberdayaan UMKM

 

Dalam rangka pemberdayaan UMKM di Indonesia, Bank Indonesia (2011)

mengembangkan filosofi lima jari/ Five finger philosophy, maksudnya setiap jari

mempunyai peran masing-masing dan tidak dapat berdiri sendiri serta akan lebih kuat

jika digunakan secara bersamaan.

  1. Jari jempol, mewakili peran lembaga keuangan yang berperan dalam intermediasi

keuangan, terutama untuk memberikan pinjaman/pembiayaan kepada nasabah

mikro, kecil dan menengah serta sebagai Agents of development (agen pembangunan).

  1. Jari telunjuk, mewakili regulator yakni Pemerintah dan Bank Indonesia yang berperan

dalam Regulator sektor riil dan fiskal, Menerbitkan ijin-ijin usaha, Mensertifikasi

tanah sehingga dapat digunakan oleh UMKM sebagai agunan, menciptakan iklim

yang kondusif dan sebagai sumber pembiayaan.

  1. Jari tengah, mewakili katalisator yang berperan dalam mendukung perbankan dan

UMKM, termasuk Promoting Enterprise Access to Credit (PEAC) Units, perusahaan

penjamin kredit.

  1. Jari manis, mewakili fasilitator yang berperan dalam mendampingi UMKM,

khususnya usaha mikro, membantu UMKM untuk memperoleh pembiayaan bank,

membantu bank dalam hal monitoring kredit dan konsultasi pengembangan

UMKM.

  1. Jari kelingking, mewakili UMKM yang berperan dalam pelaku usaha, pembayar

pajak dan pembukaan tenaga kerja.

Kebersamaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan bank komersial

merupakan salah satu dari sekian banyak bentuk simbiosis mutualisme dalam ekonomi.

Kebersamaan tersebut bukan saja bermanfaat bagi keduanya, tetapi juga bagi masyarakat

dan pemerintah. Masyarakat menikmati ketersediaan lapangan kerja dan pemerintah

menikmati kinerja ekonomi berupa naiknya Pendapatan Domestik Bruto (PDB), yang

menyumbang lebih dari separuh PDB Indonesia. Namun demikian, kerja sama tersebut

tetap perlu memegang prinsip kehati-hatian untuk memastikan terwujudnya manfaat

bagi kedua pihak.

2.4 Lembaga Keuangan Mikro

 

Lembaga Keuangan Mikro (LKM) baik formal, semi formal, maupun informal

adalah lembaga keuangan yang melakukan kegiatan jasa keuangan untuk pengusaha

mikro dan masyarakat berpenghasilan rendah (Krisnamurthi, 2002). Lembaga Keuangan

Mikro mempunyai karakter khusus yang seusai dengan konstituennya, seperti : 1) Terdiri

dari berbagai bentuk pelayanan keuangan, terutama simpanan dan pinjaman; 2)

Diarahkan untuk melayani masyarakat berpenghasilan rendah; dan 3) Menggunakan

sistem serta prosedur yang sederhana (Chotim dan Handayani, 2001).

Secara garis besar, (Prabowo dan Wardoyo, 2003) LKM dapat dikelompokkan ke

dalam LKM bank dan nonbank, antara lain sebagai berikut:

  1. Bank

– BRI Unit, berupa kantor-kantor cabang pembantu BRI

– BPR, berupa bank-bank mikro yang tunduk pada Undang-Undang Perbankan

serta Peraturan Perbankan oleh BI.

  1. Nonbank

– Keluarga LKM nonbank yang besar (LDP di Bali, BKK di Jawa Tengah, BKD di

Jawa dan Madura, BMT dan BK3D)

– Keluarga LKM nonbank yang kecil, dengan simpanan atau aktiva yang berjumlah

kecil

– Berbagai program keuangaan mikro, NGO, dan ratusan ribu asosiasi tidak resmi,

KSM, dan lain-lain.

Harapan tersebut memang dirasa cukup ideal. Namun, hal itu harus realistis

dengan kenyataan bahwa LKM memiliki beban berat dengan dirinya sendiri maupun

ketika berhadapan dengan lingkungan eksternal. Secara internal, LKM masih berkutat

juga dengan masalah manajemen, pengembalian kredit, dan lain-lain. Secara eksternal,

harus berhadapan dengan berbagai kekuatan dan kepentingan agar dapat tetap survive.

Mengenai ukuran suatu LKM dalam pengertian jumlah dana yang dikelola, jumlah staf,

jumlah klien, dan lain-lain harus menjadi besar karena biaya operasional suatu LKM

relatif besar. Sementara nilai kredit dan simpanan yang dilayani mikro masih kecil,

karenanya untuk dapat survive LKM harus memiliki jangkauan (outreach) yang besar dan

ini berarti kelembagaan suatu LKM juga harus besar (Ismawan, 2002).

 

2.5 Capacity Building

Secara umum capacity building adalah proses atau kegiatan memperbaiki

kemampuan seseorang, kelompok, organisasi atau sistem untuk mencapai tujuan atau

kinerja yang lebih baik (Brown et. al, 2001). Capacity building adalah pembangunan

keterampilan (skills) dan kemampuan (capabilities), seperti kepemimpinan, manajemen,

keuangan dan pencarian dana, program dan evaluasi, supaya pembangunan organisasi

efektif dan berkelanjutan. Ini adalah proses membantu individu atau kelompok untuk

mengidentifikasi dan menemukan permasalahan dan menambah wawasan, pengetahuan

dan pengalaman yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah dan melakukan

perubahan. (Campobaso dan Davis, 2001) Capacity building difasilitasi melalui penetapan

kegiatan bantuan teknik, meliputi pendidikan dan pelatihan, bantuan teknik khusus

(specific technical assitance) dan penguatan jaringan.

Prinsip yang perlu diterapkan adalah membangun keberdayaan ekonomi rakyat

melalui pengembangan kapasitas (capacity building), mencakup : 1) kelembagaan; 2)

pendanaan, 3) pelayanan. Di samping itu masalah internal yang harus dihadapi adalah

masalah efisiensi, keterbatasan SDM dan teknologi (Krisnamurthi, 2002).

2.6 Pasar Bebas Asean dan ACFTA (Asean China Free Trade Area)

Pasar bebas Asean akan diberlakukan pada tahun 2015. Hal ini menjadikan

pemerintah Indonesia terus meningkatkan berbagai strategi untuk menghadapinya.

Demikian juga, sejak disepakatinya perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China

(ACFTA) yang mulai diberlakukan pada 1 Januari 2010 mengharuskan pemerintah

Indonesia. Pertama, apakah pemerintah Indonesia untuk melakukan sosialisasi terhadap

publik mengenai kesepakatan ACFTA. Disamping itu pemerintah Indonesia diharapkan

memiliki strategi besar untuk menghadapi ACFTA.

Terkait dengan persepsi publik terhadap kesepakatan ACFTA. Sosialisasi penting

untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan pemerintah Indonesia sebelum ACFTA

diberlakukan. Dalam surveinya, LSI mengajukan beberapa pertanyaan terhadap publik

menyangkut ACFTA. Dari hasil survei tersebut diketahui bahwa hanya sebagian kecil saja

publik Indonesia yang mengetahui atau pernah mendengar kesepakatan/perjanjian

perdagangan bebas ASEAN-China yang mulai berlaku pada 1 Januari 2010, terdapat 26,7 persen publik yang pernah mendengar mengenai kesepakatan perdagangan bebas

ASEAN-China. Dari mereka yang pernah mendengar mengenai kesepakatan

perdagangan bebas ASEAN-China, mayoritas publik (51,9 persen) mengatakan tidak

setuju dengan kesepakatan perdagangan bebas.

Ternyata temuan survei LSI tersebut menunjukkan bahwa publik cenderung

mempersepsikan berlakunya ACFTA secara negatif. Publik menilai adanya perdagangan

bebas ASEAN-China justru dapat membahayakan pasar dalam negeri dan ini jelas dapat

merugikan neraca perdagangan Indonesia. Artinya China yang justru diuntungkan

dengan adanya perdagangan bebas dan bukan Indonesia.

Hal penting berikutnya terkait dengan kesiapan atau strategi besar pemerintah

Indonesia menghadapi ACFTA. Dalam hal ini tampak bahwa pemerintah Indonesia sama

sekali tidak mempersiapkan dirinya secara matang. Sebagaimana diakui oleh Menteri

Perindustrian MS Hidayat yang mengatakan bahwa pemerintah tidak mempunyai

strategi besar dalam menghadapi Kesepakatan Perdagangan Bebas ASEAN-China

(ACFTA).

Meskipun pemerintah Indonesia telah mengusulkan untuk melakukan renegosiasi

untuk 228 pos tarif produk yang berpotensi injuries agar pengenaan bebas bea masuk

dapat ditunda pelaksanaanya, namun hal itu tidak berjalan dan Indonesia terpaksa harus

terus berjalan dengan mekanisme ACFTA. Akibatnya adalah enam produk terkena

dampak langsung (injuries) karena ACFTA, yaitu industri tekstil dan produk tekstil/TPT,

makanan dan minuman, elektronik, alas kaki, kosmetik, serta industri jamu.

 

2.7 Peningkatan Daya Saing Produk Indonesia

Menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD)

menyebutkan bahwa daya saing adalah kemampuan perusahaan, industri, daerah,

negara, atau antar daerah untuk menghasilkan faktor pendapatan dan faktor pekerjaan

yang relatif tinggi dan berkesinambungan untuk menghadapi persaingan internasional.

Oleh karena daya saing industri merupakan fenomena di tingkat mikro perusahaan, maka

kebijakan pembangunan industri nasional didahului dengan mengkaji sektor industri

secara utuh sebagai dasar pengukurannya. Sedangkan menurut Tambunan, 2001, tingkat daya saing suatu negara di kancah

perdagangan internasional, pada dasarnya amat ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor

keunggulan komparatif (comparative advantage) dan faktor keunggulan kompetitif

(competitive advantage). Lebih lanjut, faktor keunggulan komparatif dapat dianggap

sebagai faktor yang bersifat alamiah dan faktor keunggulan kompetitif dianggap sebagai

faktor yang bersifat acquired atau dapat dikembangkan/diciptakan. Selain dua faktor

tersebut, tingkat daya saing suatu negara sesungguhnya juga dipengaruhi oleh apa yang

disebut Sustainable Competitive Advantage (SCA) atau keunggulan daya saing

berkelanjutan. Ini terutama dalam kerangka menghadapi tingkat persaingan global yang

semakin lama menjadi sedemikian ketat/keras atau Hyper Competitive.

Analisis Persaingan yang super ketat (Hyper Competitive Analysis) menurut

D’Aveni dalam (Hamdy, 2001), merupakan analisis yang menunjukkan bahwa pada

akhirnya setiap negara akan dipaksa memikirkan atau menemukan suatu strategi yang

tepat, agar negara/perusahaan tersebut dapat tetap bertahan pada kondisi persaingan

global yang sangat sulit. Menurut Hamdy Hadi, strategi yang tepat adalah strategi SCA

(Sustained Competitive Advantage Strategy) atau strategi yang berintikan upaya

perencanaan dan kegiatan operasional yang terpadu, yang mengkaitkan 5 lingkungan

eksternal dan internal demi pencapaian tujuan jangka pendek maupun jangka panjang,

dengan disertai keberhasilan dalam mempertahankan/meningkatkan sustainable real

income secara efektif dan efisien.

Menurut The Global Competitiveness Report, tahun 2011 peringkat daya saing

Indonesia mengalami penurunan menjadi 46 dibanding tahun 2010 yang berada di posisi

  1. Hal ini menuntut perlunya dilakukan kaji ulang terhadap kebijakan, program dan

kegiatan pembangunan yang dilakukan selama ini. Kementerian dan lembaga yang

membidangi setiap pilar dan indikator yang mengalami penurunan peringkat perlu

bekerja lebih dari biasa untuk menaikkan peringkat pada masing-masing indikator dan

pilar daya saing tersebut. Selain itu, berbagai faktor umum yang menghambat

peningkatan daya saing sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 2 perlu dibenahi dengan

cepat agar tahun depan dan seterusnya peringkat daya saing Indonesia tidak merosot

melainkan meningkat dengan konstan.4

Beberapa faktor yang mempengaruhi daya saing produk antara lain dipengaruhi

beberapa faktor bisnis sebagaimana dalam Tabel 2 dibawah ini.

Tabel 2. Faktor-faktor Penghambat Daya Saing

NO FAKTOR BISNIS SKOR

1 Korupsi 15.4

2 Birokrasi pemerintah yang tidak

efisien

14.3

3 Infrastruktur yang tidak memadai 9.5

4 Ketidakstabilan politik 7.4

5 Akses pada pembiayaan 7.2

6 Tenaga kerja terdidik yang memadai 6.3

7 Etika kerja yang buruk 6.2

8 Ketidakstabilan pemerintah 6.1

9 Inflasi 6.1

10 Peraturan pajak 6.0

11 Tingkat pajak 4.2

12 Peraturan buruh yang membatasi 3.6

13 Kriminalitas dan pencurian 2.7

14 Kesehatan umum yang buruk 2.5

15 Peraturan mata uang asing 2.3

Sumber: World Economic Forum (WEF), 2011

 

2.8 Agency Theory

Aplikasi agency theory dapat terwujud dalam kontrak kerja yang akan mengatur

proporsi hak dan kewajiban masing-masing pihak dengan tetap memperhitungkan

kemanfaatan secara keseluruhan. Kontrak kerja merupakan seperangkat aturan yang

mengatur mengenai mekanisme bagi hasil, baik yang berupa keuntungan, return maupun

risiko-risiko yang disetujui oleh prinsipal dan agen. Kontrak kerja akan menjadi optimal

bila kontrak dapat fairness yaitu mampu menyeimbangkan antara prinsipal dan agen

yang secara matematis memperlihatkan pelaksanaan kewajiban yang optimal oleh agen

4 Peringkat Daya Saing Indonesia 2011 dalam blog Bappenas, http://www.bappenas.go.id/blog/?p=491

dan pemberian insentif/imbalan khusus yang memuaskan dari prinsipal ke agen. Inti

dari Agency Theory atau teori keagenan adalah pendesainan kontrak yang tepat untuk

menyelaraskan kepentingan prinsipal dan agen dalam hal terjadi konflik kepentingan

(Scott, 1997); (Loudon and Loudon, 2007).

Menurut Eisenhard (1989), teori keagenan dilandasi oleh 3 (tiga) buah asumsi

yaitu: (a) asumsi tentang sifat manusia, (b) asumsi tentang keorganisasian, dan (c) asumsi

tentang informasi. Teori Keagenan dapat dilihat pada Gambar 1 sebagai berikut :

Gambar 1. Teori Keagenan

Sumber : Eisenhard, 1989

Asumsi tentang sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat untuk

mementingkan diri sendiri (self interest), memiliki keterbatasan rasionalitas (bounded

rationality), dan tidak menyukai risiko (risk aversion). Asumsi keorganisasian adalah

adanya konflik antar anggota organisasi, efisiensi sebagai kriteria produktivitas, dan

adanya Asymmetric Information (AI) antara prinsipal dan agen. Sedangkan asumsi tentang

informasi adalah bahwa informasi dipandang sebagai barang komoditi yang bisa

diperjual belikan.

 

III. PEMBAHASAN

3.1 Posisi UMKM Dalam Pasar Bebas Asean

Dalam rangka menuju Pasar Bebas Asean 2015, masih banyak peluang UMKM

untuk meraih pangsa pasar dan peluang investasi. Guna memanfaatkan peluang tersebut,

maka tantangan yang terbesar bagi UMKM di Indonesia menghadapi Pasar Bebas Asean

adalah bagaimana mampu menentukan strategi yang tepat guna memenangkan

persaingan. Saat ini, struktur ekspor produk UMKM Indonesia banyak berasal dari

industri pengolahan seperti furniture, makanan dan minuman, pakaian jadi atau garmen,

industri kayu dan rotan, hasil pertanian terutama perkebunan dan perikanan, sedangkan

di sektor pertambangan masih sangat kecil (hanya yang berhubungan dengan yang batubatuan,

tanah liat dan pasir). Secara rinci barang ekspor UMKM antara lain alat-alat

rumah tangga, pakaian jadi atau garmen, batik, barang jadi lainnya dari kulit, kerajinan

dari kayu, perhiasan emas atau perak, mainan anak, anyaman, barang dari rotan,

pengolahan ikan, mebel, sepatu atau alas kaki kulit, arang kayu/tempurung, makanan

ringan dan produk bordir. Sedangkan bahan baku produksi UMKM yang digunakan

adalah bahan baku lokal sisanya dari impor seperti plastik, kulit dan beberapa zat kimia.

Beberapa kendala UMKM yang banyak dialami negara-negara berkembang

termasuk Indonesia antara lain adalah masalah kurangnya bahan baku yang mesti harus

diimpor dari negara lain untuk proses produksi. Disamping itu pemasaran barang,

permodalan, ketersediaan energi, infrastruktur dan informasi juga merupakan

permasalahan yang sering muncul kemudian, termasuk masalah-masalah non fisik

seperti tingginya inflasi, skill, aturan perburuhan dan lain sebagainya. Tabel 3 di bawah

ini memperlihatkan kendala-kendala yang sering dialami negara Asean termasuk

Indonesa.

Tabel 3. Kendala-kendala Utama UMKM Beberapa Negara

Sumber : Tulus Tambunan, 2009

UMKM di negara-negara Asean pada umumnya juga mempunyai

permasalahan yang sama dalam pengembangan bisnisnya antara lain kendala hukum

dan regulasi pemerintah, kualitas produk dan daya saing, perpajakan, informasi pasar,

kualitas SDM, dan keahlian dalam pemasaran. Disamping itu yang paling tinggi

adalah sulitnya mengakses pinjaman atau kredit. Hal ini dapat dilihat dalam Gambar

2, sebagai hasil Survey yang dilakukan pemerintahan Thailand :

Gambar 2. Hambatan Pengembangan Bisnis pada UKM di negara Asean

Sumber : http://www.sme.go.th/Documents/internationalization

3.2 Pentingnya Pemberdayaan UMKM

Penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 240 juta orang (menurut sensus

2010), ternyata hanya 0,24 persen adalah para wirausaha (interpreneur), atau hanya

sekitar 400.000 orang yang berkecimpung dalam dunia usaha atau UMKM. Padahal agar

perekonomian Indonesia dapat berkembang lebih cepat diperlukan lebih dari 2 persen

dari jumlah penduduk sebagai wirausaha atau berkecimpung dalam UMKM. Singapura,

sebuah negara kecil namun mempunyai 7 persen dari jumlah penduduknya merupakan

wirausaha dan mempunyai banyak UMKM. Sedangkan Malaysia, lebih dari 2 persen

jumlah penduduknya merupakan para interpreneur yang berkecimpung dalam berbagai

usaha mikro. Sebagaimana Grafik 1 di bawah ini.

Grafik 1. Jumlah Wirausaha di Beberapa Negara

Sumbe : Kompas, 14 Pebruari 2011

Tidak dipungkiri bahwa UMKM juga mempunyai kontribusi terhadap

penyerapan tenaga kerja serta penerimaan negara terutama pajak. Perkembangan

penerimaan pajak dari tahun 2005 sampai dengan 2012 juga terus mengalami

peningkatan, dengan rata-rata lebih dari 12 persen. Peningkatan tertinggi terjadi di tahun

2012 dengan target penerimaan pajak sebesar 1016,2 triliun rupiah. Penerimaan pajak ini

sebagian besar adalah dari Usaha Besar sedangkan potensi dari UMKM perlu digali secara optimal. Perkembangan penerimaan pajak, terlihat sebagaimana Grafik 2 berikut

ini.

Sumber : BKF Kementerian Keuangan, 2012

 

3.3 Strategi UMKM Meningkatkan Daya Saing Industri untuk Mengahadapi Pasar Bebas

Asean

3.3.1 Peran Pemerintah melalui Beberapa Program Pemberdayaan UMKM

Perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia tidak

terlepas dari dukungan perbankan dalam penyaluran kredit kepada UMKM. Setiap

tahun kredit kepada UMKM mengalami pertumbuhan dan secara umum

pertumbuhannya lebih tinggi dibanding total kredit perbankan. Kredit UMKM adalah

kredit kepada debitur usaha mikro, kecil dan menengah yang memenuhi definisi dan

kriteria usaha mikro, kecil dan menengah sebagaimana diatur dalam UU No. 20 Tahun

2008 Tentang UMKM. Berdasarkan UU tersebut, UMKM adalah usaha produktif yang

memenuhi kriteria usaha dengan batasan tertentu kekayaan bersih dan hasil penjualan

tahunan.

Keberhasilan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia juga tidak

terlepas dari dukungan dan peran pemerintah dalam mendorong penyaluran kredit

kepada UMKM. Berbagai skim Kredit/pembiayaan UMKM diluncurkan oleh

pemerintah dikaitkan dengan tugas dan program pembangunan ekonomi pada sektorsektor

usaha tertentu, misalnya ketahanan pangan, perternakan dan perkebunan. Peran

347.0 409.2 491.0

658.7 619.9 723.3

873.9

1016.2

0.0

200.0

400.0

600.0

800.0

1000.0

1200.0

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

Grafik 2. PERKEMBANGAN PENERIMAAN PERPAJAKAN

(Rp Triliun)

pemerintah dalam skim-skim kredit UMKM ini adalah pada sisi penyediaan dana APBN

untuk subsidi bunga skim kredit dimaksud, sementara dana kredit/pembiayaan

seluruhnya (100%) berasal dari bank-bank yang ditunjuk pemerintah sebagai bank

pelaksana. Selain itu pemerintah berperan dalam penyiapan UMKM agar dapat dibiayai

dengan skim dimaksud, menetapkan kebijakan dan prioritas usaha yang akan menerima

kredit, melakukan pembinaan dan pendampingan selama masa kredit, dan memfasilitasi

hubungan antara UMKM dengan pihak lain.

Pada dewasa ini skim kredit yang sangat familiar di masyarakat adalah Kredit

Usaha Rakyat (KUR), yang khusus diperuntukkan bagi UMKM dengan kategori usaha

layak, namun tidak mempunyai agunan yang cukup dalam rangka persyaratan

perbankan. KUR adalah Kredit atau pembiayaan kepada UMKM dan Koperasi yang tidak

sedang menerima Kredit atau Pembiayaan dari Perbankan dan/atau yang tidak sedang

menerima Kredit Program dari Pemerintah pada saat permohonan Kredit/Pembiayaan

diajukan. Tujuan akhir diluncurkan Program KUR adalah meningkatkan perekonomian,

pengentasan kemiskinan dan penyerapan tenaga kerja.

KUR merupakan kredit yang diberikan oleh bank kepada UMKM dalam bentuk

pemberian modal kerja dan investasi untuk usaha produktif yang feasible namun belum

bankable. Tujuannya adalah tercapainya percepatan pengembangan sektor riil (terutama

sektor pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan serta industri).

Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit Usaha Mikro Kecil dan

Menengah (UMKM) masih sangat rendah di bawah 10% sejak Januari hingga Mei 2011.

Bank sentral terus mengarahkan bank untuk menggenjot kredit sektor produktif tersebut

untuk mencegah ekonomi “overheating” alias kepanasan. BI membedakan kredit UMKM

dan MKM karena bank saat ini tergolong masih banyak menyalurkan kredit MKM yang

masih berbau konsumtif jika dibandingkan UMKM yang bersifat produktif. UMKM itu

murni digunakan untuk usaha, berbeda dengan MKM yang konsumtif, BI kini

mendorong bank untuk lebih menyalurkan ke UMKM

Dengan diberlakukannya UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia

sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2004, kebijakan Bank Indonesia

dalam membantu pengembangan UMKM mengalami perubahan paradigma yang cukup

mendasar karena BI tidak dapat lagi memberikan bantuan keuangan atau Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) sehingga peranan Bank Indonesia dalam

pengembangan UMKM berubah menjadi tidak langsung. Pendekatan yang digunakan

kepada UMKM bergeser dari development role menjadi promotional role. Pendekatan yang

memberikan subsidi kredit dan bunga murah sudah bergeser kepada pendekatan yang

lebih menitikberatkan pada kegiatan pelatihan kepada petugas bank, penelitian dan

penyediaan informasi.

Sabirin (2001) menjelaskan bahwa untuk memberdayakan masyarakat golongan

ekonomi lemah atau sektor usaha kecil adalah dengan menyediakan sumber pembiayaan

usaha yang terjangkau. Salah satu strategi pembiayaan bagi golongan ini adalah usaha

kredit mikro. Lembaga keuangan mikro merupakan institusi yang menyediakan jasa-jasa

keuangan penduduk yang berpendapatan rendah dan termasuk dalam kelompok miskin.

Lembaga keuangan mikro ini bersifat spesifik karena mempertemukan permintaan dana

penduduk miskin atas ketersediaan dana. Bagi lembaga keuangan formal perbankan,

penduduk miskin akan tidak dapat terlayani karena Kesuksesan pemberdayaan UMKM

akan terwujud bila semua stakeholder berperan secara bersama-sama sesuai peran

masing-masing. Baik regulator termasuk Pemerintah Daerah, para pelaku UMKM dan

dunia perbankan yang dapat bekerja sesauai dengan tugas dan fungsinya, maka

keberhasilan dan kemajuan UMKM akan cepat terlaksana. Sehingga pada akhirnya

peningkatan penerimaan pajak dari sisi penggalian wajib pajak baru maupun nilai

pajaknya akan terus meningkat.

Pemerintah sebagai regulator, pada dasarnya telah banyak mengeluarkan

program atau skim yang telah disediakan untuk memberdayakan UMKM. Program ini

hendaknya terus dioptimalisasikan. Program-program tersebuta antara lain.

  1. Kredit Usaha Rakyat (KUR), sebagaimana telah di bahas di atas.
  2. Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE),

KKPE adalah kredit investasi atau modal kerja yang diberikan dalam rangka

mendukung program ketahanan pangan, dan diberikan melalui kelompok tani atau

koperasi.

  1. Program Usaha Agrobisnis Pertanian (PUAP)

5 Andang Setyobudi, dalam Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan, Volume 5, nomor 2, Agustus 2007

berjudul “Peran serta Bank Indonesia dalam Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)”.

PUAP merupakan fasilitasi bantuan modal usaha untuk petani anggota, baik petani

pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani yang

dikoordinasikan oleh gabungan kelompok tani (Gapoktan).

  1. Kredit Usaha Pembibitan Sapi (KUPS)
  2. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM)

Demikian juga program-program yang dikeluarkan oleh Badan Usaha Milik

Negara (BUMN) dalam bentuk Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).

Program ini berangkat dari kepedulian dari BUMN untuk memberdayakan UMKM

melalui bagian laba sebesar 2,5 persen yang digunakan untuk pemberdayaan UMKM.

Disisi lain Kementrian Koperasi dan UMKM dan Kementrian lainnya langsung

melakukan pembinaan terhadap UMKM di seluruh wilayah tanah air. Termasuk

Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan langsung melakukan pembinaan dan

pemberian fasilitas pajak kepada UMKM.

Diharapkan juga pemberdayaan UMKM akan dilakukan oleh pihak swasta

melalui Corporate Social Responsibility (CSR) yang mereka miliki, antara lain melalui

bapak angkat, plasma, pembinaan manajemen dan berbagai kegiatan untuk pemasaran

produk UMKM. CSR diharapkan juga digulirkan oleh industri perbankan Indonesia guna

memberikan kemudahan dan akses kredit kepada para pelaku UMKM.

Saat ini Bank Indonesia juga telah melakukan pembinan dan berbagai aktivitas

untuk pemberdayaan UMKM dalam bentuk program Konsultan Keuangan Mitra Bank

(KKMB). Program ini dimaksudkan antara lain sebagai pendampingan manajerial baik

dibidang keuangan, pemasaran, kapasitas pengelolaan serta administrasi UMKM. Hal

senada juga dilakukan oleh beberapa Pemerintah Daerah berupa program ekonomi

kerakyatan pemda serta keunggulan komparatif daerah. Salah satu hal terpenting lagi

adalah program sosialisasi berbagai program agar program-program pemberdayaan

UMKM dapat dengan mudah diakses.

Salah satu bagian kebijakan fiskal baik fasilitas perpajakan maupun fasilitas

kepabeanan yang selama ini diberikan juga dapat ditunjukkan sebagaimana Gambar 2,

berikut ini :

Gambar 2. Insentif Fiskal Pemberdayaan UMKM

Sumber : BKF Kementerian Keuangan

Secara rinci beberapa insentif fiskal yang telah terssedia untuk mendorong

perkembangan UMKM di Indonesia antara lain pemberian Tax Holiday, Tax Allowance,

Batasan Harga Rumah Sederhana Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertambahan

Nilai, PPh Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk komoditas panas bumi dan bunga imbal

hasil atas SBN yg diterbitkan di pasar internasional, Pembebasan/pengurangan PPnBM

untuk kendaraan bermotor (hybrid dan low cost green car).

Demikian juga diberikan fasilitas tidak dipungut PPN dan PPnBM terhadap

barang kena pajak (BKP) yang mendapatkan pembebasan bea masuk, sesuai dgn kriteria

tertentu, misal impor barang untuk eksplorasi hulu migas dan panas bumi. Termasuk

penurunan beberapa tarif Bea Masuk, pembebasan Bea Masuk atas Impor Barang Modal

dalam Rangka Pembangunan dan Pengembangan Industri Tenaga Listrik untuk

Kepentingan Umum serta Pemberian Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP)

Mengacu pada sasaran dan arah kebijakan pemberdayaan UMKM sebagaimana

uraian di atas, maka diperlukan strategi pada tatanan makro, dan mikro melalui

implementasi program-program pemberdayaan UMKM seperti sebagai berikut :

Insentif

Kebijakan

Pendapatan

Negara

Pembebasan bea masuk

PPN tidak

dipungut/dibebaskan

Fasilitas PPh

Kebijakan

Belanja

Negara

Subsidi

Pajak Ditanggung

Permerintah

Protektif

Kebijakan

Pendapatan

Negara

Tarif Bea Masuk

BM Anti Dumping ,

safeguard

Bea Keluar

  1. Penciptaan iklim usaha UMKM. Tujuan program ini adalah untuk memfasilitasi

terselenggaranya lingkungan usaha yang efisien secara ekonomi, sehat dalam

persaingan, dan nondiskriminatif bagi kelangsungan dan peningkatan kinerja usaha

kecil menengah.

  1. Pengembangan sistem pendukung usaha bagi UMKM. Program ini bertujuan untuk

mempemudah, memperlancar, dan memperluas akses UKM kepada sumberdaya

produktif agar mampu memanfaatkan kesempatan yang terbuka dan potensi

sumberdaya lokal serta menyesuaikan skala usahanya sesuai dengan tuntutan

efisiensi.

  1. Penegembanagn kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UMKM.

Program ini ditujukan untuk mengembangkan jiwa dan semanga kewirausahaan dan

meningkatkan daya saing UKM, sehingga pengetahuan serta sikap wirausaha

semakin berkembang dan produktivitas meningkat;

  1. Pemberdayaan Usaha Skala Kecil. Program ini ditujukan untuk meningkatkan

pendapatan masyarakat yang bergerak dalam kegiatan usaha ekonomi di sektor

informal yang berskala usaha mikro, terutama yang masih berstatus keluarga miskin

dalam rangka memperoleh pendapatan yang tetap, melalui upaya peningkatan

kapasitas usaha, sehingga menjadi unit usaha yang lebih mandiri

  1. Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi. Program ini bertujuan untuk

meningkatkan kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi agar koperasi mampu

tumbuh dan berkembang secara sehat.

3.3.2 Perluasan Akses Informasi Jaringan Pemasaran bagi UMKM

Dalam menghadapi mekanisme pasar yang makin terbuka dan kompetitif,

penguasaan pasar merupakan prasyarat untuk meningkatkan daya saing UMKM. Agar

dapat menguasai pasar, maka UMKM perlu mendapatkan informasi dengan mudah dan

cepat, baik informasi mengenai pasar produksi maupun pasar faktor produksi. Informasi

tentang pasar produksi sangat diperlukan untuk memperluas jaringan pemasaran

produk yang dihasilkan oleh UMKM. Informasi pasar produksi atau pasar komoditas

yang diperlukan misalnya (1) jenis barang atau produk apa yang dibutuhkan oleh

konsumen di daerah tertentu, (2) bagaimana daya beli masyarakat terhadap produk

tersebut, (3) berapa harga pasar yang berlaku, (4) selera konsumen pada pasar lokal, regional, maupun internasional. Dengan demikian, UMKM dapat mengantisipasi

berbagai kondisi pasar sehingga dalam menjalankan usahanya akan lebih inovatif.

Sedangkan informasi pasar faktor produksi juga diperlukan terutama untuk mengetahui

: (1) sumber bahan baku yang dibutuhkan, (2) harga bahan baku yang ingin dibeli, (3) di

mana dan bagaimana memperoleh modal usaha, (4) di mana mendapatkan tenaga kerja

yang professional, (5) tingkat upah atau gaji yang layak untuk pekerja, (6) di mana dapat

memperoleh alat-alat atau mesin yang diperlukan (Effendi Ishak, 2005).

Informasi pasar yang lengkap dan akurat dapat dimanfaatkan oleh UMKM untuk

membuat perencanaan usahanya secara tepat, misalnya : (1) membuat desain produk

yang disukai konsumen, (2) menentukan harga yang bersaing di pasar, (3) mengetahui

pasar yang akan dituju, dan banyak manfaat lainnya. Oleh karena itu peran pemerintah

sangat diperlukan dalam mendorong keberhasilan UMKM dalam memperoleh akses

untuk memperluas jaringan pemasarannya.

Selain memiliki kemudahan dan kecepatan dalam memperoleh informasi pasar,

UMKM juga perlu memiliki kemudahan dan kecepatan dalam mengkomunikasikan atau

mempromosikan usahanya kepada konsumen secara luas baik di dalam maupun di luar

negeri. Selama ini promosi UMKM lebih banyak dilakukan melalui pameran-pameran

bersama dalam waktu dan tempat yang terbatas, sehingga hubungan maupun transaksi

dengan konsumen kurang bisa dijamin keberlangsungannya. Hal itu dapat disebabkan

oleh jarak yang jauh atau kendala intensitas komunikasi yang kurang. Padahal faktor

komunikasi dalam menjalankan bisnis adalah sangat penting, karena dengan komunikasi

akan membuat ikatan emosional yang kuat dengan pelanggan yang sudah ada, juga

memungkinkan datangnya pelanggan baru.

3.4 Strategi UMKM Meningkatkan Sumber Daya Manusia untuk Mengahadapi Pasar

Bebas Asean

3.4.1 Penguatan lembaga pendamping melalui Peningkatan Capacity Building

Setyobudi (2007) menyebutkan bahwa Bank Indonesia lebih fokus pada

penguatan lembaga pendamping UMKM melalui peningkatan capacity building dalam bentuk pelatihan dan kegiatan penelitian yang menunjang pemberian kredit kepada

UMKM. Beberapa upaya yang dilakukan antara lain:

  1. pelatihan-pelatihan kepada lembaga pendamping UMKM, dalam rangka

meningkatkan kemampuan kredit UMKM

  1. Pendirian Pusat Pengembangan Pendamping UKM (P3UKM), sebagai pilot project.

P3UKM antara lain bertugas melakukan pelatihan dan akreditasi pendamping UKM.

  1. Pengembangan Sistem Informasi Terpadu Pengembangan Usaha Kecil (SIPUK)

sebagai sarana untuk lebih menyebarluaskan secara cepat hasil-hasil penelitian dan

berbagai informasi lainnya. SIPUK terdiri dari Sistem Informasi Baseline Economic

Survey (SIB), Sistem Informasi Agroindustri Berorientasi Ekspor (SIABE), Sistem

Informasi Pola Pembiayaan/ lending model Usaha Kecil (SILMUK), Sistem Penunjang

Keputusan Untuk Investasi (SPKUI); dan Sistem Informasi Prosedur Memperoleh

Kredit (SIPMK). SIPUK ini dapat diakses melalui website Bank Indonesia.

  1. Berbagai penelitian dalam rangka memberikan informasi untuk mendukung

pengembangan UMKM. Kegiatan penelitian terutama diarahkan untuk mendukung

penetapan arah dan kebijakan Bank Indonesia dalam rangka pemberian bantuan

teknis dan juga dalam rangka penyediaan informasi yang berguna dalam rangka

pengembangan UMKM. Penelitian tersebut disesuaikan dengan kebutuhan

pengembangan UMKM serta untuk menggali potensi sektor UMKM di tiap-tiap

daerah di Indonesia. Dalam upaya meningkatkan peran UMKM untuk mendorong

pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia melakukan kajian identifikasi peraturan

pusat dan daerah dalam rangka pengembangan UMKM serta kajian dan

implementasi pilot project klaster pengembangan UMKM.

3.4.2 Pengembangan Sumber Daya Manusia pada UMKM melalui IT (Information

Technology)

Teknologi informasi merupakan bentuk teknologi yang digunakan untuk

menciptakan, menyimpan, mengubah, dan menggunakan informasi dalam segala

bentuknya. Melalui pemanfaatan teknologi informasi ini, perusahaan mikro, kecil

maupun menengah dapat memasuki pasar global. Perusahaan yang awalnya kecil seperti

toko buku Amazon, portal Yahoo, dan perusahaan lelang sederhana Ebay, ketiganya saat ini menjadi perusahaan raksasa hanya dalam waktu singkat karena memanfaatkan teknologi informasi dalam mengembangkan usahanya.

Pemanfaatan teknologi informasi dalam menjalankan bisnis atau sering dikenal

dengan istilah e-commerce bagi perusahaan kecil dapat memberikan fleksibilitas dalam

produksi, memungkinkan pengiriman ke pelanggan secara lebih cepat untuk produk

perangkat lunak, mengirimkan dan menerima penawaran secara cepat dan hemat, serta

mendukung transaksi cepat tanpa kertas. Pemanfaatan internet memungkinkan UMKM

melakukan pemasaran dengan tujuan pasar global, sehingga peluang menembus ekspor

terbuka luas. Disamping itu biaya transaksi juga bisa diturunkan. Sebagaimana Gambar

3 menunjukkan penurunan biaya dari kurva T1 ke T2.

Gambar 3. Teori Transaksi Biaya (Transaction Cost)

Sumber : Loudon & Loudon, 2007

Biaya transaksi (Transaction Cost), merupakan biaya-biaya yang timbul dari proses

kegiatan bisnis. Biaya ini mencakup biaya komunikasi (baik di dalam organisasi dan

dengan organisasi lain), pembelian asuransi, memperoleh informasi tentang produk dan

layanan, sesuai dengan kontrak dan banyak lagi. Biaya dari semua ini berpotensi dapat

dikurangi dengan sistem TI yang lebih baik. Hal ini terutama berlaku dengan jaringan,

yang dapat mengurangi biaya komunikasi antara bagian geografis terpisah dari

organisasi, pemasok dan pelanggan.

Hal positif yang dapat diperoleh dengan memanfaatkan jaringan internet dalam

mengembangkan usaha adalah : (1) dapat mempertinggi promosi produk dan layanan

melalui kontak langsung, kaya informasi, dan interaktif dengan pelanggan, (2)

menciptakan satu saluran distribusi bagi produk yang ada, (3) biaya pengiriman informasi ke pelanggan lebih hemat jika dibandingkan dengan paket atau jasa pos, (4)

waktu yang dibutuhkan untuk menerima atau mengirim informasi sangat singkat, hanya

dalam hitungan menit atau bahkan detik.

Oleh karena itu, agar UMKM di Indonesia dengan segala keterbatasannya dapat

berkembang dengan memanfaatkan teknologi informasi, perlu dukungan berupa

pelatihan dan penyediaan fasilitas. Tentu saja tanggungjawab terbesar untuk memberi

pelatihan dan penyediaan fasilitas ini ada di tangan pemerintah, disamping pihak-pihak

lain yang punya komitmen, khususnya kalangan perguruan tinggi. Pusat Pengembangan

UMKM berbasis IT ini perlu dibangun di setiap kabupaten atau jika mungkin di setiap

kecamatan. Fasilitas tersebut berupa ruangan khusus dilengkapi dengan seperangkat

komputer yang terkoneksi dengan internet, serta dilengkapi website UMKM masingmasing

daerah, di bawah pengelolaan dan pembiayaan pemerintah daerah.

Mengapa perlu dibuat Pusat Pengembangan UMKM Berbasis IT di tingkat

kabupaten atau kecamatan? Hal ini didasari pada kenyataan bahwa sebagian besar

UMKM berlokasi di desa-desa dan kota-kota kecamatan, serta belum mampu untuk

memiliki jaringan internet sendiri, apalagi memiliki websitenya. Padahal untuk

pengembangan usaha dengan akses pasar global harus memanfaatkan media virtual.

Pusat Pengembangan UMKM Berbasis IT ini akan memudahkan UMKM dalam

memperluas pasar baik di dalam negeri maupun pasar luar negeri dengan waktu dan

biaya yang efisien. Sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat UMKM dan tenaga kerja

yang terlibat di dalamnya akan meningkat, dan secara bersinergi akan berdampak positif

terhadap keberhasilan pembangunan nasional.

Pada dasarnya produk UKM Indonesia banyak memiliki kualitas sama dengan

produk luar negeri, atau bahkan lebih baik lagi. Namun produk luar tersebut seringkali

unggul dalam teknologi, baik dalam teknologi produksi, pengemasan maupun

pemasarannya.

Guna memenangkan persaingan, UMKM juga harus berkembang sesuai dengan

perkembangan jaman. Pada dasarnya dengan bantuan Teknologi Informasi dan

Komunikasi dapat meningkatkan kinerja sehingga lebih efektif dan efisien. Jadi meskipun

ada sedikit perbedaan cost dengan sistem tradisional, UMKM dapat menikmati fasilitas dari IT yang akan memberikan return yang sepadan. Dengan IT UMKM akan lebih siap

untuk bersaing tidak hanya di dalam negeri tetapi juga dengan produk-produk luar

negeri. Kita dapat bersaing dari segi kualitas, pengemasan, dan kecepatan operasi

perusahaan serta yang lebih penting lagi adalah dalam pemasaran produk UMKM.

  1. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

  1. Strategi untuk mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di

Indonesia tidak terlepas dari dukungan perbankan dalam penyaluran kredit. Saat ini

skim kredit yang sangat familiar di masyarakat adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR),

yang khusus diperuntukkan bagi UMKM dengan kategori usaha layak, tanpa

agunan. Selain itu penguatan lembaga pendamping UMKM dapat dilakukan melalui

kemudahan akses serta peningkatan capacity building dalam bentuk pelatihan dan

kegiatan penelitian yang menunjang pemberian kredit kepada UMKM.

  1. Strategi untuk mengantisipasi mekanisme pasar yang makin terbuka dan kompetitif

khususnya di kawasan Asean adalah penguasaan pasar, yang merupakan prasyarat

untuk meningkatkan daya saing UMKM. Agar dapat menguasai pasar, maka UMKM

perlu mendapatkan informasi dengan mudah dan cepat, baik informasi mengenai

pasar produksi maupun pasar faktor produksi untuk memperluas jaringan

pemasaran produk yang dihasilkan oleh UMKM. Aplikasi teknologi informasi pada

usaha mikro, kecil dan menengah akan mempermudah UMKM dalam memperluas

pasar baik di dalam negeri maupun pasar luar negeri dengan efisien. Pembentukan

Pusat Pengembangan UMKM berbasis IT dianggap mampu mendorong

pertumbuhan dan perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah di era teknologi

informasi saat ini.

4.2 Saran

  1. Untuk meningkatkan daya saing diperlukan sinergi antara peran pemerntah selaku

pembuat kebijakan serta lembaga pendamping, khususnya lembaga keuangan mikro

untuk mempermudah akses perkreditan dan perluasan jaringan informasi pemasaran. Selain itu, budaya mencintai produksi dalam negeri juga perlu dipupuk agar UMKM berkembang dan perekonomian nasional menjadi lebih kuat.

  1. Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah perlu aktif untuk bekerjasama dan

berkoordinasi dengan Pemerintah maupun Pemerintah Daerah untuk terus

melakukan pembinaan dan pelatihan melalui peningkatan capacity building dan

penerapan aplikasi information technology (IT), termasuk mengefektifkan kembali web

Pemda-Pemda saat ini yang tidak optimal sebagai basis komunikasi UMKM di

daerah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bank Indonesia. 2011. Five Finger Philosophy:Upaya Memberdayakan UMKM,

(online),(http://www.bi.go.id/web/id/UMKMBI/Koordinasi/Filosofi+Lima+Jari/,dia

kses 3 oktober 2011)

BPS. 2011. Produk Domestik Bruto. (online), (http://www.bps.go.id/index.php?news=730,

diakses 12 oktober 2011)

Brown, Lisanne, Anne LaFond, and Kate Macintyre. 2001. Measuring Capacity Building, Carolina

Population Center, Chapel Hill : University of North Carolina,

Campobasso, L and D Davis, 2001. Reflection on Capacity Building, the California Wellness

Foundation Journal, Volume 2 no. 2. California : Wellness Foundation

Chotim, E.E dan Handayani, A.D, 2001. Lembaga Keuangan Mikro Dalam Sejarah, Jurnal Analisis

Sosial, Volume 6, Nomor 3 Desember 2001.

Diskop Jatim. 2010. Sinkronisasi Pembangungan KUMKM. (online),

(http://lensa.diskopjatim.go.id/liputan-khusus/23-liputan-khusus/175-sinkronisasipembangunan-

kumkm.html, diakses 10 oktober 2011)

Djunaedi, Achmad. 2000. Pedoman Penulisan Tinjauan Pustaka. Yogyakarta : Pascasarjana UGM.

Eisenhardt, K.M. (1989). ‘Agency Theory: An Assesment and Review’. Academy of Management

Review. January. Pp.: 57 – 74.

Galeri UKM. 2011. Kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah, (Online),

(http://galeriukm.web.id/news/kriteria-usaha-mikro-kecil-dan-menengah-umkm,

diakses 1 oktober 2011)

Hamdy, Hady. 2001. Ekonomi Internasional – Teori dan Kebijakan Perdagangan Internasional. Buku 1,

Edisi Revisi Jakarta, Ghalia Indonesia.

Ishak, Effendi. 2005. Artikel : Peranan Informasi Bagi Kemajuan UKM. Yogyakarta : Kedaulatan

Rakyat.

Ismawan, Bambang. 2002. Ekonomi Rakyat : Sebuah Pengantar, Seminar Pendalaman Ekonomi Rakyat,

Jakarta : Financial Club.

Krisnamurthi, Bayu. 2002. RUU Keuangan Mikro : Rancangan Keberpihakan Terhadap Ekonomi

Rakyat, (online), (www.bmm-online.org, dikses 4 oktober 2011)

31

Loudon, Kenneth C dan Loudon, Jane P. 2007. Management Information System : Managing the

Digital Firm. Jakarta : Pearcon Education

Prabowo, Hendro dan Wardoyo. 2003. Kinerja Lembaga Keuangan Mikro bagi Upaya Penguatan

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Wilayah Jabotabek. Depok : Universitas Gunadarma

Rahmana, Arief. 2008. Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Informasi Terdepan tentang Usaha Kecil

Menengah, (online), (http://infoukm.wordpress.com, diakses 1 oktober 2011)

Republik Indonesia. 2008. Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan

Menengah. Jakarta : Sekretariat Negara

Sabirin, S. 2001. Pemanfaatan Kredit Mikro untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Rakyat di dalam

Era Otonomi Daerah. Orasi Ilmiah Lustrum IX Universitas Andalas, Padang, 13 September

2001.

Scot, W.R. 1997. Financial Accounting Theory. New Jersey : Prentice-Hall

Setyobudi, Andang. 2007. Peran serta Bank Indonesia dalam Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan

Menengah (UMKM), Buletin Hukum Perbankan dan Kebanksentralan, Volume 5, nomor

2, Agustus 2007. Jakarta: Bank Indonesia

Sudaryanto. 2011. The Need for ICT-Education for Manager or Agribusinessman to Increasing Farm

Income : Study of Factor Influences on Computer Adoption in East Java Farm Agribusiness.

International Journal of Education and Development, JEDICT, Vol 7 No 1 halm. 56-67

Sudaryanto dan Hanim,Anifatul. 2002. Evaluasi kesiapan UKM Menyongsong Pasar Bebas Asean

(AFTA) : Analisis Perspektif dan Tinjauan Teoritis. Jurnal Ekonomi Akuntansi dan

Manajemen, Vol 1 No 2, Desember 2002

Suyanto, M. 2005. Artikel, Aplikasi IT untuk UKM Menghadapi Persaingan Global. Yogyakarta

Tambunan, Tulus, 2001, Perdagangan Internasional dan Neraca Pembayaran, Teori dan

Temuan Empiris, LP3ES, Jakarta

Tambunan, Tulus, 2010, Center for Industry, SME and Business Competition Studies, Trisakti

University, Indonesia

———-World Economic Forum (WEF), 2011 dalam http://www.bappenas.go.id/blog/wpcontent/

uploads/2012/10/2_PERINGKAT-DAYA-SAING-INDONESIA-2011-hary-

Dralat.pdf

———-http://www.bappenas.go.id/blog/?p=491

———-http://galeriukm.web.id/

———-http://www.sme.go.th/Documents/internationalization

32

Lampiran 1

Jumlah Unit Usaha dan Penyerapan Tenaga Kerja (2006-2010)

Sumber : Kemenkop dan UMKM, 2011

No. INDIKATOR SATUAN 2006 2007 2008 2009 2010

1 UNIT USAHA (A+B) (Unit) 49,026,380.00 50,150,263.00 51,414,262.00 52,769,280.00 53,828,569.00

  1. Usaha Mikro, Kecil dan

Menengah (UMKM)

(Unit) 49,021,803.00 50,145,800.00 51,409,612.00 52,764,603.00 53,823,732.00

– Usaha Mikro (UMi) (Unit) 48,512,438.00 49,608,953.00 50,847,771.00 52,176,795.00 53,207,500.00

– Usaha Kecil (UK) (Unit) 472,602.00 498,565.00 522,124.00 546,675.00 573,601.00

– Usaha Menengah(UM) (Unit) 36,763.00 38,282.00 39,717.00 41,133.00 42,631.00

  1. Usaha Besar (UB) (Unit) 4,577.00 4,463.00 4,650.00 4,677.00 4,838.00

2 TENAGA KERJA (A+B) (Orang) 90,350,778.00 93,027,341.00 96,780,483.00 98,886,003.00 102,241,486.00

  1. Usaha Mikro, Kecil dan

Menengah (UMKM)

(Orang) 87,909,598.00 90,491,930.00 94,024,278.00 96,211,332.00 99,401,775.00

– Usaha Mikro (UMi) (Orang) 82,071,144.00 84,452,002.00 87,810,366.00 90,012,694.00 93,014,759.00

– Usaha Kecil (UK) (Orang) 3,139,711.00 3,278,793.00 3,519,843.00 3,521,073.00 3,627,164.00

– Usaha Menengah(UM) (Orang) 2,698,743.00 2,761,135.00 2,694,069.00 2,677,565.00 2,759,852.00

  1. Usaha Besar (UB) (Orang) 2,441,181.00 2,535,411.00 2,756,205.00 2,674,671.00 2,839,711.00

http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Strategi%20Pemberdayaan%20UMKM.pdf

 

This entry was posted in Tugas. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s